Tingkatan Bala’, Sabar dan Tawakal

Sudah menjadi ketentuan-Nya, setiap manusia tidak akan pernah lepas dari yang namanya bala bencana, siapapun dia; nabi, wali, orang muslim biasa, orang shalih maupun orang kafir. Allah menurunkan bala’ kepada manusia tentunya ada tujuan dan hikmah dibalik itu semua. Semua itu tergantung tingkatan pengabdian di sisi-Nya. Dari situ, maka Maulana Syekh Mukhtar Ali Muhammad al-Dasuki membagi bala’ menjadi beberapa tingkatan. Dan semuanya termaktub dalam al-Quran dan al-Hadits;

Tingkatan pertama adalah bala’ untuk orang-orang kafir yang disebut dengan: Bala’ Intiqam, yaitu bala’ azab yang diturunkan untuk tujuan memusnahkan atau mengakhiri. Allah berfirman:

فانتقمنا منهم فانظر كيف كان عاقبة المكذبين

Yang artinya: “Maka kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana akibat bagi orang-orang yang mendustakan itu”.(QS:al-Zukhruf: 25). Bala’ Intiqam ini bila telah turun kepada orang-orang kafir, tidak berarti mereka terbebas dari siksaan di hari akhirat, karena Allah berfirman:

لهم فى الدنيا خزي ولهم فى الاخرة عذاب عظيم

Yang artinya: “Mereka di dunia mendapatkan kehinaan dan di akhirat mendapatkan siksa yang berat”. (QS: al-Baqarah: 144).

Tingkatan kedua adalah bala’ untuk kaum muslimin (awam) yang disebut dengan: Bala’ Mahwu Sayyi’ah; Bala’ ini diturunkan bertujuan untuk menghapuskan dosa. Rasulullah Saw. bersabda:

حمى ليلة كفارة سنة

Yang artinya: “Demam semalam menghapus dosa satu tahun”.

Tingkatan yang ketiga adalah bala’ untuk mukminin (khowas) yang disebut dengan: Bala’ Raf’u Darajah. Bala’ ini diturunkan untuk mereka orang-orang shalih, tujuannya bukan untuk memusnahkan atau menghapus dosa mereka, sebab mereka terjaga dan tak berdosa sebagaimana halnya orang awam. Mereka mendapat bala’ semata-mata agar derajat tinggi mereka mendapat peningkatan dari Allah Swt. sebagaimana yang menimpa kepada Saidina Binyamin As. Allah Swt, berfirman:

فبدءناباوعيتهم قبل وعاءاخيه ثم استخرجها من وعاء اخيه, كذالك كدنا ليوسف, ما كان لياخذ اخاه فى دين الملك الا ان يشاء الله, نرفع درجات من نشاء, وفوق كل ذي علم عليم

Yang artinya: ” Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya . Demikianlah kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendakinya, kami tinggikan derajat orang yang kami kehendaki; dan tiap-tiap orang yang mempunyai pengetahuan, ada yang maha mengetahui”. (QS: Yusuf: 76).

Tingkatan yang terakhir adalah bala’ untuk mukhsinin (khowasul khowas) yang disebut dengan: Bala’ Mahabbah. Bala’ ini diturunkan semata-mata untuk membkutikan cinta Allah kepada hamba-Nya. Bala’ ini khusus untuk para rasul, para nabi dan para wali. Bala’ yang menimpa justru sebagai tanda cinta. Rasul bersabda:

اذا احب الله عبدا ابتلاه

Yang artinya: “Jikalau Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memberinya bala’ (mengujinya)”.

Dengan demikian maka siapapun dia, tidak akan lepas dari yang namanya bala’, hanya saja jenis bala’nya yang bagaimana? semoga Allah Swt. menjadikan bala’ yang menimpa kita adalah untuk menghapus dosa kita, bukan untuk memusnahkan kita, Amin!

Dalam menghadapi musibah apapun, kita perlu menanam sifat sabar dan tabah dalam hati kita. Sebagaimana bala’ untuk orang-orang Islam terbagi menjadi tiga tingkatan, sifat sabarpun terbagi menjadi tiga tingkatan:

Tingkatan yang pertama: Sabar yang pahit dan disertai perasaan kecewa dan sedih namun tetap sabar dan tidak putus asa terhadap rahmat Allah. Dalam al-Qur’an:

وبشر الصابرين الذين اذا اصابتهم مصيبة قالوا انا لله وانا اليه راجعون

Yang artinya: ” Dan beritakanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita semua akan kembali”. (QS:al-Baqarah: 156).

Tingkatan yang kedua tidak sepahit sabar yang pertama, bahkan tidak kecewa dan dengan senang hati menerima taqdir-Nya, beda halnya dengan sabar yang pertama; sabar yang disertai berat hati dan duka. Allah berfirman:

الذين قال لهم الناس ان الناس قد جمعوا لكم فاخشوهم فزادهم ايمانا وقالوا حسبناالله ونعم الوكيل

Yang artinya: (Yaitu) orang-orang (yang taat kepada Allah dan rasul-Nya) yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”! Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik sebaik-baik pelindung”.(QS: Ali Imran: 173).

Tingkatan yang ketiga adalah sabar yang justru bahagia dengan taqdir Allah segetir apapun, mereka selalu ridlo, bahagia dan bersuka cita karena mereka telah memilih Allah dari pada yang selain-Nya, sehingga mereka yakin kebaikan justru terdapat dalam musibah itu sendiri karena di balik itu semua, pasti ada yang lebih baik lagi. Allah berfirman:

رضي الله عنهم و رضوا عنه ذالك لمن خشي ربه

Yang artinya:” Allah ridla terhadap mereka dan merekapun ridla kepada-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Allah. (QS: al-Bayyinah: 8). Saidina Abu Bakr Ra. berkata bahwa seseorang akan mendapat ridho Allah apabila ia sendiri telah meridhoi-Nya, dalam artian meridhoi qada’ dan qadar-Nya, dan tanda seseorang ridho kepada Allah, Swt adalah apabila ia bahagia dengan suatu musibah sebagaimana ia bahagia dengan suatu nikmat, maka ia telah ridho kepada Allah, Swt.

Hanya saja Allah Swt. senantiasa menuntut kita untuk selalu berusaha dan bekerja keras demi meraih cita-cita. Jangan hanya mengharap pemberian-Nya tanpa mau berikhtiar dan berusaha, sebab tawakal adalah kepasrahan yang diawali dengan usaha yang maksimal. Bila tidak berusaha dan hanya menerima hasil maka itu disebut Tawaakul dan bukan Tawakkul.. Allah berfirman:

فاذا عزمت فتوكل على الله ان الله يحب المتوكلون

Yang artinya: “Dan jikalau kamu berazam (membulatkan tekad), maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. Tawakkal artinya berusaha sekuat tenaga, kemudian pasrah dan menerima apapun hasilnya, dan bukan hanya berpangku tangan menunggu nasib.

Tawakal yang tepat dan benar adalah yang diawali dengan usaha yang maksimal, dan oleh orang-orang shaleh dibagi juga menjadi tiga bagian, tergantung tingkatan seorang hamba di sisi-Nya:

Tawakal yang pertama adalah Berusaha lalu menerima apapun hasilnya. Yang kedua: Berusaha lalu meridhoi apapun hasilnya. Sedangkan yang ketiga dan yang tertinggi adalah: Berusaha dan tetap bahagia apapun hasilnya.

Adapun bila tidak berusaha dan hanya berpangku tangan menunggu hasil maka disebut Tawaakul dan ini adalah sifat yang tercela, karena Allah telah berfirman:

” وقل اعملوا فسيرالله عملكم ورسوله والمؤمنون “

yang artinya: ” Katakanlah (wahai Muhammad), perbuatlah kalian semua amal, maka Allah, Rasul-Nya dan para mukminun akan melihat (amal-amal kamu sekalian)”. (QS: Al-Taubah: 105). Pasrah yag tidak di awali dengan amal dan usaha yang maksimal, berarti telah melanggar ketentuan-Nya. Semoga kita semua dianugerahi kekuatan untuk dapat mengabdi kepada-Nya dengan sebaik mungkin, senang dan ridlo atas segala ketentuan-Nya. Amin.

Itulah tingkatan-tingkatan bala’, sabar dan tawakal. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari ulasan yang sederhana ini.

Wala haula wala Quwata illa billah.

petikan dari : http://www.gusmied.co.nr/

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 28 other followers

%d bloggers like this: