Bolehkah Menyerupai Kaum Non-Islam?

Pada dasarnya setiap manusia akan mempunyai tabiat meniru apa yang dianggap baik dan tidak ketinggalan zaman. Pakaian merupakan hiasan tubuh manusia yang modenya akan selalu berubah setiap zaman. Mode pakaian yang sudah ketinggalan zaman akan ditinggalkan dan mode pakaian masakinilah yang akan jadi trend.

Pada zaman sekarang ini peradaban negara-negara baratlah yang maju dan menguasai dunia, produk-produk dari desain teknologi mutahir yang selalu ditemukan akan selalu menghiasi aktifitas interaksi manusia satu dengan yang lainnya. Mulai dari kebutuhan barang primer; seperti sandang, papan, dan makanan sampai kebutuhan sekunder, seperti alat transportasi; mulai dari sepeda sampai kapal terbang, alat komunikasi; mulai dari surat sampai handphone. Dan hampir semua kebutuhan manusia akan selalu diperbaharui kwalitas dan fasilitasnya.

Hampir semua alat-alat tersebut adalah hasil penemuan orang-orang barat yang notabenenya adalah non Islam. Masalah yang sampai sekarang menjadi pokok pembicaraan yang selalu hangat adalah pertanyaan; apakah orang–orang Islam yang menyerupai atau meniru berpakaian dan menggunakan barang-barang tersebut, termasuk telah keluar dari Islam? Mari kita bahas bersama-sama.

Sebenarnya, pokok masalah yang mendasari pertanyaan ini adalah hadits Rasulullah saw, yang berbunyi:

من تشبه بقوم فهو منهم

Yang artinya: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum itu”.

Sekarang yang jadi pembahasan dari hadits di atas adalah; jikalau makna hadits ini mutlak (semua aspek), maka seluruh orang Islam telah masuk ke dalam golongan orang-orang non Islam alias kafir, karena hampir semua kebutuhan orang Islam menyerupai mereka, mulai dari berpakaian sampai penggunaan alat-alat canggih penemuan mereka. Maka, apa sih sebenarnya maksud dari hadits di atas?

Menyerupai atau meniru dalam berpakain dan penggunaan alat-alat canggih yang telah digunakan oleh orang-orang non muslim tidak akan menjadikan seorang muslim keluar dari agamanya alias murtad. Rasulullah bersabda:

ان الله لا ينظر الي صوركم ولا اجسا مكم ولكن الله ينظر الي قلو بكم “

Yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa ataupun bentuk badan kamu sekalian akan tetapi Allah melihat hati kamu sekalian”.

Kemudian Allah juga menjelaskan didalam alquran :

” يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر “

Yang artinya ;” Allah menghendaki kamu sekalian kemudahan dan tidak menghedaki kamu sekalian kesulitan” (QS: Al-Baqarah : 185).

Dan ini sesuai dengan hadits Rasulullah :

يسروا ولا تعسروا

Yang artinya:” Permudahlah (urusan kamu sekalian) dan jangan kamu persulit”.

Jadi, sungguh jelas sekali bahwasanya Allah dan rasul-Nya menghendaki hamba-hamba-Nya untuk mempermudah segala urusannya, dan tidak memperdulikan bentuk pakaian, atau sarana baik untuk berinteraksi atau beribadah selama tidak melanggar ajaran agama Islam. Pada zaman Rasulullah Saw, mode pakaian dan sarana transportasi belum sebagus dan secanggih sekarang. Untuk bepergian dari kota Mekkah ke kota Madinah saja, membutuhkan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari, karena sarana transportasi yang ada sangat sederhana, yaitu berupa kuda dan unta. Terus, bagaimana dengan orang Islam yang hidup di zaman sekarang yang serba maju dan canggih ini? Apakah mereka harus bersusah payah seperti di zaman rasulullah dahulu, atau mereka harus meniru dan menyerupai orang-orang barat yang non Islam?

Jadi, yang dimaksud dari hadits di atas adalah; bukan meniru atau menyerupai dalam hal berpakaian dan penggunaan alat-alat modern yang telah mereka pakai sehari-hari, akan tetapi tasyabbuh (menyerupai) disitu adalah meniru atau menyerupai dalam aqidah (keyakinan) dan apa yang mereka sembah. Sebagaimana contoh kesamaan antara orang Islam dan orang Majusi yang sama-sama menggunakan api sebagai alat penerang dan alat bakar, akan tetapi seketika itu juga orang Majusi meyakini dan menyembahnya sebagai tuhan, berbeda dengan orang Islam.

Kesimpulannya; meniru dan menyerupai kaum non-Islam sangat diperbolehkan selama tidak menyerupai dalam aqidahnya, tidak membuka aurat dan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Wala haula wala quwata illa billah.

Oleh: Gus Mied Baidlowi

(Santri Mazraatul Kiram, Mahasiswa Fak. Hadits Ushuluddin Al-Azhar Cairo Mesir)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: